Oleh. M. SHOIM ANWAR -
IRAMA salsa terdengar mengiringi rancak kaki para pedansa. Lantai porselin warna susu tampak kemilau hingga seperti tanpa permukaan.
Kaki-kaki itu menembus batas. Telapaknya saling menyanggah antara yang di atas dan yang di bawah. Mereka memainkan langkah ke berbagai arah. Dan saat kaki itu terangkat nampak ada ruang kosong di antaranya. Gerakan pun memutar dengan cepat membentuk alemana yang enak ditonton. Pantulan itu terlihat agak mengabur, tapi indah dilihat karena membentuk siluet yang makin ke dalam makin meremang. Meski musik mengalun, langkah sepatu masih terdengar bersamaan dengan kaki-kaki itu beradu. Kadang lembut, kadang keras, sesuai dengan tempo yang dimainkan oleh mereka.
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
30 Agustus 2015
23 Agustus 2015
Kutukan Lembah Baliem
Oleh RISDA NUR WIDIA -
DI Lembah Baliem 1, kesedihan adalah darah dan pengorbanan. Kenangan merupakan kepedihaan. Pagi itu, di dalam honai-honai 2 yang lembab, para mama telah berkumpul dan menangis. Sebuah kepergian kembali terulang. Kepergian yang tak pernah menghadirkan kebahagian; selain kesediahan. Sepanjang hari yang muram itu, setiap pasang mata khusuk menekuri mayat seorang pria yang telah meregang tanpa nyawa. Mengenaskan. Tubuhnya koyak-moyak. Darahnya meleleh melumuri setiap lubang luka. Panah masih tertancap gagah di dadanya.
Tidak ada kata. Hanya tangis dan usaha melupakan rasa sedih dengan doa-doa. Panjang. Tabah dipanjatkan. Begitu pun dengan mamamu. Ia terpekur dengan air mata berlinang. Kulit wajahnya yang kecoklatan memudar pucat, dan matanya leleh karena berkabung. Ia juga telah tiga kali jatuh pingsang; mendapati kenyataan kalau seorang pria yang ia cintai meninggal. Tetapi tangis tidak menyelamatkan apapun. Mayat papamu tetap saja tak kembali hidup. Bahkan doa-doa hanya seleberasi pemanis keadaan.
DI Lembah Baliem 1, kesedihan adalah darah dan pengorbanan. Kenangan merupakan kepedihaan. Pagi itu, di dalam honai-honai 2 yang lembab, para mama telah berkumpul dan menangis. Sebuah kepergian kembali terulang. Kepergian yang tak pernah menghadirkan kebahagian; selain kesediahan. Sepanjang hari yang muram itu, setiap pasang mata khusuk menekuri mayat seorang pria yang telah meregang tanpa nyawa. Mengenaskan. Tubuhnya koyak-moyak. Darahnya meleleh melumuri setiap lubang luka. Panah masih tertancap gagah di dadanya.
Tidak ada kata. Hanya tangis dan usaha melupakan rasa sedih dengan doa-doa. Panjang. Tabah dipanjatkan. Begitu pun dengan mamamu. Ia terpekur dengan air mata berlinang. Kulit wajahnya yang kecoklatan memudar pucat, dan matanya leleh karena berkabung. Ia juga telah tiga kali jatuh pingsang; mendapati kenyataan kalau seorang pria yang ia cintai meninggal. Tetapi tangis tidak menyelamatkan apapun. Mayat papamu tetap saja tak kembali hidup. Bahkan doa-doa hanya seleberasi pemanis keadaan.
16 Agustus 2015
Ateng
Oleh SUNLIE THOMAS ALEXANDER -
SETIAP KALI melihat anak-anak atau remaja bermain sepak bola di tanah lapang, entahlah, aku selalu teringat pada Ateng.
Ah, bukan. Ia bukan pemain bola dari kesebelasan kampung manapun. Ia cuma seorang bocah kecil penjual es bungkus batangan yang selalu menjajakan dagangannya bila ada anak-anak bertanding bola di lapangan SMP St. Yosef, tempatku bersekolah dulu.
Selain digunakan untuk berbagai kegiatan olahraga, mulai dari sepakbola, senam, atletik, hingga kasti, lapangan rumput yang berbatasan dengan hutan dan kebun milik warga itu juga dipakai untuk upacara bendera setiap hari Senin. Kendati luasnya hanya separo lebih dari Lapangan Hijau--lapangan sepakbola kebanggaan kota kecamatan kami-- tapi itu sudahlah cukup bagi anak-anak SD dan SMP (juga anak-anak sekitar lainnya) bermain bola dengan riang hampir saban sore setelah sekolah bubar. Tanpa alas kaki, sebagian bertelanjang dada.
SETIAP KALI melihat anak-anak atau remaja bermain sepak bola di tanah lapang, entahlah, aku selalu teringat pada Ateng.
Ah, bukan. Ia bukan pemain bola dari kesebelasan kampung manapun. Ia cuma seorang bocah kecil penjual es bungkus batangan yang selalu menjajakan dagangannya bila ada anak-anak bertanding bola di lapangan SMP St. Yosef, tempatku bersekolah dulu.
Selain digunakan untuk berbagai kegiatan olahraga, mulai dari sepakbola, senam, atletik, hingga kasti, lapangan rumput yang berbatasan dengan hutan dan kebun milik warga itu juga dipakai untuk upacara bendera setiap hari Senin. Kendati luasnya hanya separo lebih dari Lapangan Hijau--lapangan sepakbola kebanggaan kota kecamatan kami-- tapi itu sudahlah cukup bagi anak-anak SD dan SMP (juga anak-anak sekitar lainnya) bermain bola dengan riang hampir saban sore setelah sekolah bubar. Tanpa alas kaki, sebagian bertelanjang dada.
9 Agustus 2015
Teropong Kan
Oleh MARDI LUHUNG -
Oleh seluruh isi Alam hatimu tak terpuaskan...*
KAN melongo. Tak percaya. Diucek-ucek matanya. Tetap melongo. Apa ini mimpi atau bukan? Sekali lagi Kan tak percaya. Sebab, telur (yang sebesar telur puyuh) yang barusan keluar dari anusnya itu lain. Sesuatu yang bukan basah, bau dan menjijikkan. Tapi, kering, agak bundar, dan indah seperti emas. Emas? Ya, telur itu memang emas. Emas murni. Yang jika ditimbang, mungkin seberat sekian puluh gram. Berat yang aduhai. Berat, yang dijual cepat-cepatan, akan mendapatkan uang kurang lebih sekian ratus juta. Sekian ratus juta? Wah, Kan kembali tak percaya. Untuk apa uang sebanyak itu.
Oleh seluruh isi Alam hatimu tak terpuaskan...*
KAN melongo. Tak percaya. Diucek-ucek matanya. Tetap melongo. Apa ini mimpi atau bukan? Sekali lagi Kan tak percaya. Sebab, telur (yang sebesar telur puyuh) yang barusan keluar dari anusnya itu lain. Sesuatu yang bukan basah, bau dan menjijikkan. Tapi, kering, agak bundar, dan indah seperti emas. Emas? Ya, telur itu memang emas. Emas murni. Yang jika ditimbang, mungkin seberat sekian puluh gram. Berat yang aduhai. Berat, yang dijual cepat-cepatan, akan mendapatkan uang kurang lebih sekian ratus juta. Sekian ratus juta? Wah, Kan kembali tak percaya. Untuk apa uang sebanyak itu.
2 Agustus 2015
Tuhan Kecil di Vsyehrad Hills
Oleh ILHAM Q. MOEHIDDIN -
#1
DI bawah payung besar, di sebuah meja di kafetaria itu, Lavinsky merendahkan punggung di sandaran kursi. Kepalanya terangkat dan menemukan mata gadis itu lagi --dengan kecuraman yang begitu tampak di dalamnya. Kabut yang menyisa tipis di Vsyehrad Hills membuat pandangan terbatas ke arah Jembatan Karluvmost. Ia menutup Umberto Eco dan meletakkannya di meja.
"Kau suka buku? Lavinsky duduk tepat di depannya.
"Tidak!" jawab gadis itu dengan ketus --namanya Lalena.
"Kenapa?"
#1
DI bawah payung besar, di sebuah meja di kafetaria itu, Lavinsky merendahkan punggung di sandaran kursi. Kepalanya terangkat dan menemukan mata gadis itu lagi --dengan kecuraman yang begitu tampak di dalamnya. Kabut yang menyisa tipis di Vsyehrad Hills membuat pandangan terbatas ke arah Jembatan Karluvmost. Ia menutup Umberto Eco dan meletakkannya di meja.
"Kau suka buku? Lavinsky duduk tepat di depannya.
"Tidak!" jawab gadis itu dengan ketus --namanya Lalena.
"Kenapa?"
26 Juli 2015
Blowing in The Wind
Oleh KARTA KUSUMAH -
KINI kau adalah sebuah suara yang keluar dari mulut seorang penyanyi kafe pada pukul tiga dini hari yang lelah: "How many roads must a man walk down before you call him a man?"
Kemudian kau terbentur ke lantai yang lembab dan dingin. Tak berkutik beberapa saat sebelum sepasang sepatu dari langkah yang terburu-buru menendangmu, menyebabkan kau terlempar ke kolong meja bernomor empat belas di mana seorang lelaki sedang memandang langit-langit cafe dengan tatapan yang berusaha menunjukkan --pada seekor cicak yang kebetulan berada tepat di hadapan sepasang matanya-- betapa letihnya ia dini hari itu. Lelaki itu menghirup napas dalam-dalam. Kau terbawa ke dalam paru-parunya. Selang beberapa detik, ia mengembuskan napas dengan kuat. Kau terlempar dan melekat di rambut seorang perempuan yang sedang merapikan rias wajah, rambut, dan busana. Ia mematut dirinya di hadapan cermin kecil. Memoles bibirnya dengan gincu merah, menambah tebal bedaknya, dan kemudian menyibakkan rambutnya.
KINI kau adalah sebuah suara yang keluar dari mulut seorang penyanyi kafe pada pukul tiga dini hari yang lelah: "How many roads must a man walk down before you call him a man?"
Kemudian kau terbentur ke lantai yang lembab dan dingin. Tak berkutik beberapa saat sebelum sepasang sepatu dari langkah yang terburu-buru menendangmu, menyebabkan kau terlempar ke kolong meja bernomor empat belas di mana seorang lelaki sedang memandang langit-langit cafe dengan tatapan yang berusaha menunjukkan --pada seekor cicak yang kebetulan berada tepat di hadapan sepasang matanya-- betapa letihnya ia dini hari itu. Lelaki itu menghirup napas dalam-dalam. Kau terbawa ke dalam paru-parunya. Selang beberapa detik, ia mengembuskan napas dengan kuat. Kau terlempar dan melekat di rambut seorang perempuan yang sedang merapikan rias wajah, rambut, dan busana. Ia mematut dirinya di hadapan cermin kecil. Memoles bibirnya dengan gincu merah, menambah tebal bedaknya, dan kemudian menyibakkan rambutnya.
19 Juli 2015
Tenun Abu Haf
Oleh CIKIE WAHAB -
SEORANG tukang tenun muncul di simpang jalan yang menghubungkan dua bangunan besar. Di pundaknya ada gendongan berisi lembaran kain dan benang. Matanya memerah dan ada perban di dahinya yang hitam. Tukang tenun itu bernama Abu Haf. Ia tiba di Pekanbaru setelah berjam-jam menyelundup di tumpukan kain yang dibawa lewat kapal di Pelabuhan Duku.
Sinar matahari yang garang menyuntik kakinya yang tidak bersepatu. Sandalnya tipis dan jempolnya kapalan. Beberapa kali ia menahan langkahnya agar sandal itu tidak putus. Ia merasa tersesat dan tidak tahu harus mencari alamat yang tertera dalam kertas lusuhnya. Seorang kenalan lama yang pernah ia temui saat di kepulauan yang barangkali bisa membantu dirinya.
SEORANG tukang tenun muncul di simpang jalan yang menghubungkan dua bangunan besar. Di pundaknya ada gendongan berisi lembaran kain dan benang. Matanya memerah dan ada perban di dahinya yang hitam. Tukang tenun itu bernama Abu Haf. Ia tiba di Pekanbaru setelah berjam-jam menyelundup di tumpukan kain yang dibawa lewat kapal di Pelabuhan Duku.
Sinar matahari yang garang menyuntik kakinya yang tidak bersepatu. Sandalnya tipis dan jempolnya kapalan. Beberapa kali ia menahan langkahnya agar sandal itu tidak putus. Ia merasa tersesat dan tidak tahu harus mencari alamat yang tertera dalam kertas lusuhnya. Seorang kenalan lama yang pernah ia temui saat di kepulauan yang barangkali bisa membantu dirinya.
12 Juli 2015
Spektrum Banksy
Oleh SWISTIEN KUSTANTYANA dan GUNTUR ALAM -
PERNAHKAH kau membayangkan jika malaikat pencabut nyawa jatuh cinta pada korbannya? Iya, aku tahu seharusnya malaikat tak punya perasaan, tak mengenal cinta, dan tak mengenal rasa cemburu. Namun, aku benar-benar jatuh cinta pada Aya. Spektrum Cahaya --nama lengkapnya. Perempuan yang tiga bulan lagi harus kucabut nyawanya, dengan tanganku sendiri.
Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Dadaku tiba-tiba berdebar saat pertama kali menatap wajahnya. Untuk kau ketahui, selama hidupku, itu kejadian pertama dadaku berdebar. Aya menghentikan aktivitasnya saat aku datang. Tangan kanannya yang semula lincah mengoperasikan mouse kini bergeming. Tubuhnya menegang kaku. Entahlah, apakah Aya merasakan kehadiranku?
PERNAHKAH kau membayangkan jika malaikat pencabut nyawa jatuh cinta pada korbannya? Iya, aku tahu seharusnya malaikat tak punya perasaan, tak mengenal cinta, dan tak mengenal rasa cemburu. Namun, aku benar-benar jatuh cinta pada Aya. Spektrum Cahaya --nama lengkapnya. Perempuan yang tiga bulan lagi harus kucabut nyawanya, dengan tanganku sendiri.
Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Dadaku tiba-tiba berdebar saat pertama kali menatap wajahnya. Untuk kau ketahui, selama hidupku, itu kejadian pertama dadaku berdebar. Aya menghentikan aktivitasnya saat aku datang. Tangan kanannya yang semula lincah mengoperasikan mouse kini bergeming. Tubuhnya menegang kaku. Entahlah, apakah Aya merasakan kehadiranku?
5 Juli 2015
Pulang
Oleh ADI WICAKSONO -
IBU menelepon mengabarkan bahwa adikku Hanum sudah mendapatkan jodoh, Baskara namanya, seorang insinyur yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum, lelaki baik-baik dari keluarga baik-baik.
Bagiku ini sebuah kejutan. Bagaimanapun Hanum adalah perempuan yang sulit didekati laki-laki, sehingga agak sulit pula mendapatkan jodoh. Beberapa kali ia menjalin hubungan dengan laki-laki, tapi kemudian mereka lekas menjauh setelah mengetahui watak Hanum yang lugas, kritikal, bahkan terkadang agak sinis. Tapi, setiap kali putus hubungan, Hanum cuek saja dan seolah tidak ambil pusing.
IBU menelepon mengabarkan bahwa adikku Hanum sudah mendapatkan jodoh, Baskara namanya, seorang insinyur yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum, lelaki baik-baik dari keluarga baik-baik.
Bagiku ini sebuah kejutan. Bagaimanapun Hanum adalah perempuan yang sulit didekati laki-laki, sehingga agak sulit pula mendapatkan jodoh. Beberapa kali ia menjalin hubungan dengan laki-laki, tapi kemudian mereka lekas menjauh setelah mengetahui watak Hanum yang lugas, kritikal, bahkan terkadang agak sinis. Tapi, setiap kali putus hubungan, Hanum cuek saja dan seolah tidak ambil pusing.
28 Juni 2015
Prahara Meja Makan
Oleh DAMHURI MUHAMMAD -
SUDAH lama Buyung memendam hasrat hendak melihat mobil sedan. Maklum, kampungnya amat udik. Jalannya nyaris belum pernah dilintasi sedan. Bila ada mobil yang melintas, itu hanya truk rongsok pengangkut kayu bakar yang datang Senin dan Kamis, dengan suara mesin serupa erangan pengidap sesak napas paling parah.
Di masa itu, Buyung hanya tahu sedan dari sinema akhir pekan di layar televisi hitam-putih milik tetangga. Melihat sedan dari kejauhan, bagi Buyung, bagai mengamati malaikat Ridwan dalam wujud benda, dan gairah ingin menghampirinya barangkali seperti gairah Musa yang hendak bertemu Tuhan di bukit Thursina.
SUDAH lama Buyung memendam hasrat hendak melihat mobil sedan. Maklum, kampungnya amat udik. Jalannya nyaris belum pernah dilintasi sedan. Bila ada mobil yang melintas, itu hanya truk rongsok pengangkut kayu bakar yang datang Senin dan Kamis, dengan suara mesin serupa erangan pengidap sesak napas paling parah.
Di masa itu, Buyung hanya tahu sedan dari sinema akhir pekan di layar televisi hitam-putih milik tetangga. Melihat sedan dari kejauhan, bagi Buyung, bagai mengamati malaikat Ridwan dalam wujud benda, dan gairah ingin menghampirinya barangkali seperti gairah Musa yang hendak bertemu Tuhan di bukit Thursina.
21 Juni 2015
Sunat
Oleh SUNLIE THOMAS ALEXANDER
PERCAYAKAH Anda? Kalau di kampung halamanku, khitan atau yang lebih kerap kita sebut sunat, tak hanya membuat anak-anak Melayu menjelang akil baliq menangis ketakutan setiapkali mendengarnya, tetapi juga anak-anak Tionghoa. Ya, kendati mereka mungkin tak bakal mengalaminya.
Aku tidak tahu sejak kapan dan bagaimana ceritanya, sunat bisa menjadi semacam momok bagi anak-anak Tionghoa. Yang kutahu sejak aku masih kecil, kata itu memang sudah jadi ancaman yang kerapkali terlontar dari mulut orangtua kami.
PERCAYAKAH Anda? Kalau di kampung halamanku, khitan atau yang lebih kerap kita sebut sunat, tak hanya membuat anak-anak Melayu menjelang akil baliq menangis ketakutan setiapkali mendengarnya, tetapi juga anak-anak Tionghoa. Ya, kendati mereka mungkin tak bakal mengalaminya.
Aku tidak tahu sejak kapan dan bagaimana ceritanya, sunat bisa menjadi semacam momok bagi anak-anak Tionghoa. Yang kutahu sejak aku masih kecil, kata itu memang sudah jadi ancaman yang kerapkali terlontar dari mulut orangtua kami.
14 Juni 2015
Bawang Merah dan Ibunya
Oleh BENNY ARNAS
SEJAK berusia tiga tahun, karena pipinya selalu bersemu merah dan matanya kerap berair ketika tertawa saking senangnya, ia dipanggil Bawang Merah. Tentu saja bukan ayahnya yang memulai, melainkan teman-temannya. Lambat-laun, mungkin karena mendapati anak gadisnya tak keberatan dengan pangggilan itu, sang ayah pun memanggilnya begitu. Sebenarnya ketika Bawang Merah baru saja masuk sekolah dasar, ayahnya sudah bertanya.
"Kau mendengar cerita Bawang Merah dan Bawang Putih?"
Bawang Merah menggeleng.
SEJAK berusia tiga tahun, karena pipinya selalu bersemu merah dan matanya kerap berair ketika tertawa saking senangnya, ia dipanggil Bawang Merah. Tentu saja bukan ayahnya yang memulai, melainkan teman-temannya. Lambat-laun, mungkin karena mendapati anak gadisnya tak keberatan dengan pangggilan itu, sang ayah pun memanggilnya begitu. Sebenarnya ketika Bawang Merah baru saja masuk sekolah dasar, ayahnya sudah bertanya.
"Kau mendengar cerita Bawang Merah dan Bawang Putih?"
Bawang Merah menggeleng.
7 Juni 2015
Berjalan di Atas Kaca
Oleh N. MAREWO
“CERITAKAN padaku tentang keajaiban,” remaja usia dua belas tahun itu berkata dengan nada memohon pada pamannya di suatu siang yang gerah. Di emperan depan sang paman bersandar di dinding dan mengeluarkan sebatang rokok dari dalam bungkusan. Bekas pelaut itu menghela napas. Wajahnya mendadak serius. Dinyalakannya rokok sambil mengepulkan asap seakan lupa dengan siapa ia bersama, lalu bercerita:
Kelamin dan biji pelir menciut seakan hilang dilahap ikan, rata dengan badan akibat kedinginan dan lama terendam. Kepala rasanya begitu berat. Sepanjang hari matahari tak henti-henti memanggang. Leher menjuntai, bersandar pada jeriken tempat tangan terikat. Bola mata perih akibat ditepuk air laut. Angin kencang menerpa tak tahu ampun. Harapan terulur seperti benang layang-layang dilepas. Cuaca sangat buruk. Arus menyeret sementara gelombang menghantam setinggi pohon. Antara sadar dan terjaga kulihat diri dalam sebuah sampan. Semacam sampan yang biasa kita pakai memancing ikan. Tampaknya seperti di bawah kolong jembatan. Cahaya lampu kelap-kelip. Sepertinya aku memasuki kota yang belum pernah kukenal. Tetapi aku menepi saja. Rasanya di pinggiran kali yang lebar.
“CERITAKAN padaku tentang keajaiban,” remaja usia dua belas tahun itu berkata dengan nada memohon pada pamannya di suatu siang yang gerah. Di emperan depan sang paman bersandar di dinding dan mengeluarkan sebatang rokok dari dalam bungkusan. Bekas pelaut itu menghela napas. Wajahnya mendadak serius. Dinyalakannya rokok sambil mengepulkan asap seakan lupa dengan siapa ia bersama, lalu bercerita:
Kelamin dan biji pelir menciut seakan hilang dilahap ikan, rata dengan badan akibat kedinginan dan lama terendam. Kepala rasanya begitu berat. Sepanjang hari matahari tak henti-henti memanggang. Leher menjuntai, bersandar pada jeriken tempat tangan terikat. Bola mata perih akibat ditepuk air laut. Angin kencang menerpa tak tahu ampun. Harapan terulur seperti benang layang-layang dilepas. Cuaca sangat buruk. Arus menyeret sementara gelombang menghantam setinggi pohon. Antara sadar dan terjaga kulihat diri dalam sebuah sampan. Semacam sampan yang biasa kita pakai memancing ikan. Tampaknya seperti di bawah kolong jembatan. Cahaya lampu kelap-kelip. Sepertinya aku memasuki kota yang belum pernah kukenal. Tetapi aku menepi saja. Rasanya di pinggiran kali yang lebar.
31 Mei 2015
Hikayat Kota Orang-Orang Putus Asa
Oleh ILHAM Q. MOEHIDDIN
1/
BERJALANLAH ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya.
Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka. Telaga Dosa.
1/
BERJALANLAH ke selatan, akan kau temui sebuah kota, di mana orang-orang putus asa tinggal. Kota yang memiliki telaga kecil dengan kilauan di permukaannya. Telaga yang mengisap harapan. Konon, tak ada ikan di dalamnya. Telaga yang hanya memantulkan cahaya merah rembulan, dan tepiannya ditumbuhi lumut putih yang bertangkai sebesar lidi kelapa dengan bola-bola berlendir pada ujungnya.
Orang-orang putus asa di kota itu menamai telaga kecil mereka. Telaga Dosa.
24 Mei 2015
Telepon Keluarga
Oleh YETTI A.KA
TELEPON di rumah ini sudah lama tak berdering. Mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun. Namun, benda itu tetap berada di atas meja bulat dengan alas kain putih yang selalu bersih. Persis di samping telepon, sebuah buku catatan pesan dengan sampul hitam dibiarkan terbuka, seolah-olah telepon itu akan segera berbunyi dan ada berita penting yang harus dicatat dengan tergesa. Dan orang yang paling suka melakukannya --mencatat setiap pesan yang disampaikan lewat telepon itu-- adalah aku.
Di rumah ini aku hanya seorang anak angkat. Tentang itu memang sama sekali tidak disembunyikan oleh siapa pun. Itulah yang kusukai dari keluarga ini. Keterbukaan (meski tak banyak orang siap dengan itu). Mereka tak menyembunyikan apa pun dariku. Saat aku berusia sembilan tahun, Nenek Ce --begitu kami semua memanggilnya-- mengajakku bicara di bawah pohon yang, bibitnya, paman beli di luar negeri saat ia bertugas sebagai diplomat dan pohon itu tentu mahal sekali dan di sanalah Nenek Ce memberi tahu dari mana asal usulku (di bawah pohon yang mahal itu!) --dan hari ini setelah kupikir-pikir, jangankan manusia, setiap benda saja perlu asal-usul dan Nenek Ce sama sekali tidak bersalah telah melakukannya.
TELEPON di rumah ini sudah lama tak berdering. Mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun. Namun, benda itu tetap berada di atas meja bulat dengan alas kain putih yang selalu bersih. Persis di samping telepon, sebuah buku catatan pesan dengan sampul hitam dibiarkan terbuka, seolah-olah telepon itu akan segera berbunyi dan ada berita penting yang harus dicatat dengan tergesa. Dan orang yang paling suka melakukannya --mencatat setiap pesan yang disampaikan lewat telepon itu-- adalah aku.
Di rumah ini aku hanya seorang anak angkat. Tentang itu memang sama sekali tidak disembunyikan oleh siapa pun. Itulah yang kusukai dari keluarga ini. Keterbukaan (meski tak banyak orang siap dengan itu). Mereka tak menyembunyikan apa pun dariku. Saat aku berusia sembilan tahun, Nenek Ce --begitu kami semua memanggilnya-- mengajakku bicara di bawah pohon yang, bibitnya, paman beli di luar negeri saat ia bertugas sebagai diplomat dan pohon itu tentu mahal sekali dan di sanalah Nenek Ce memberi tahu dari mana asal usulku (di bawah pohon yang mahal itu!) --dan hari ini setelah kupikir-pikir, jangankan manusia, setiap benda saja perlu asal-usul dan Nenek Ce sama sekali tidak bersalah telah melakukannya.
5 April 2015
Cerita dari Negeri Siput
Oleh MULIADI G.F.
PENGUJUNG semester ini, teman sejawatku, Pak Toni, mendapat kejutan dari sebuah cerita siswa anonim di mading sekolah. Sudah setahun dia pindah ke sekolah di kampung kami, tapi sepertinya masih perlu waktu lama sampai dia mengenali siswa-siswanya; dia tak punya bayangan siapa kiranya yang telah menulis cerita itu.
Aku tahu itu untuk dia karena terlihat sekilas, di atas titimangsa, sebuah kalimat singkat: "Untuk Pak Toni". Meski itu pasti mengejutkan baginya tapi aku menduga, sebagai guru bahasa, Pak Toni diam-diam pasti bangga juga ada salah seorang di antara siswa-siswanya bisa menulis seperti itu. Para pembaca, orang-orang yang lewat kemudian membaca cerita tersebut, pasti punya penilaian tersendiri terhadapnya. Dan, di tengah-tengah merekalah, pagi itu aku dan Pak Toni berdiri. Tanpa sadar --sepertinya sudah menjadi kebiasaanku-- aku membaca dengan bersuara, dimulai dari tepi atas kertas di mana tertulis dengan huruf besar-besar judul cerita itu, diikuti paragraf pembuka yang mengenaskan:
PENGUJUNG semester ini, teman sejawatku, Pak Toni, mendapat kejutan dari sebuah cerita siswa anonim di mading sekolah. Sudah setahun dia pindah ke sekolah di kampung kami, tapi sepertinya masih perlu waktu lama sampai dia mengenali siswa-siswanya; dia tak punya bayangan siapa kiranya yang telah menulis cerita itu.
Aku tahu itu untuk dia karena terlihat sekilas, di atas titimangsa, sebuah kalimat singkat: "Untuk Pak Toni". Meski itu pasti mengejutkan baginya tapi aku menduga, sebagai guru bahasa, Pak Toni diam-diam pasti bangga juga ada salah seorang di antara siswa-siswanya bisa menulis seperti itu. Para pembaca, orang-orang yang lewat kemudian membaca cerita tersebut, pasti punya penilaian tersendiri terhadapnya. Dan, di tengah-tengah merekalah, pagi itu aku dan Pak Toni berdiri. Tanpa sadar --sepertinya sudah menjadi kebiasaanku-- aku membaca dengan bersuara, dimulai dari tepi atas kertas di mana tertulis dengan huruf besar-besar judul cerita itu, diikuti paragraf pembuka yang mengenaskan:
29 Maret 2015
Kota-Kota Kecil yang Kulewati dan Nama-Nama yang Bangkit
Oleh RAUDAL TANJUNG BANUA
DALAM perjalanan ke suatu tempat, aku sering dibuat takjub justru oleh tempat-tempat yang dilewati, kadang melebihi ketakjubanku pada tempat yang dituju. Barangkali, bisik batinku, tempat bernama kota tujuan telah akrab dikenal, dan kau bakal punya cukup waktu untuk tinggal hingga bosan. Sementara tempat berupa kota kecil yang dilewati hanya lintas sekejap, dari balik jendela bus yang melaju atau kereta yang berlari. Kau tak bisa menyentuhnya, dan kalaupun berhenti, tak bisa lama-lama, mungkin sekian menit di stasiun, seperempat jam di rumah makan atau sebatang rokok saja di warung kopi.
Ketika aroma tanahnya mulai membubung ke pangkal hidung dan hiruk-pikuknya mulai diresapi, saat itu lonceng keberangkatan kereta berdentang. Atau kernet yang cekatan mencongkel ban telah selesai dan berkata sambil melap tangan, "Berangkat, berangkat!"
DALAM perjalanan ke suatu tempat, aku sering dibuat takjub justru oleh tempat-tempat yang dilewati, kadang melebihi ketakjubanku pada tempat yang dituju. Barangkali, bisik batinku, tempat bernama kota tujuan telah akrab dikenal, dan kau bakal punya cukup waktu untuk tinggal hingga bosan. Sementara tempat berupa kota kecil yang dilewati hanya lintas sekejap, dari balik jendela bus yang melaju atau kereta yang berlari. Kau tak bisa menyentuhnya, dan kalaupun berhenti, tak bisa lama-lama, mungkin sekian menit di stasiun, seperempat jam di rumah makan atau sebatang rokok saja di warung kopi.
Ketika aroma tanahnya mulai membubung ke pangkal hidung dan hiruk-pikuknya mulai diresapi, saat itu lonceng keberangkatan kereta berdentang. Atau kernet yang cekatan mencongkel ban telah selesai dan berkata sambil melap tangan, "Berangkat, berangkat!"
22 Maret 2015
Tidak Mudah Menjadi Hantu
Oleh BAMBY CAHYADI
SULTAN Saladdin baru menyadari kematiannya setelah 7 tahun ia tewas akibat sengatan listrik di ruang tamu rumahnya. Ya, ketika itu usianya 38 tahun, dan apabila ia masih menjalani kehidupan sebagai manusia bernyawa maka kini ia genap 45 tahun.
Sultan Saladdin adalah lelaki baik-baik. Berumur tiga puluh delapan tahun kala itu, menikah dua kali. Pernikahan dengan istri pertama tanpa anak, pernikahan kedua ia beroleh dua orang anak. la bekerja sebagai wartawan di salah satu majalah mingguan ternama di ibu kota, dan ia begitu mencintai buku, terutama buku sastra. Ia bergabung dengan komunitas penikmat sastra dan banyak mengikuti kegiatan-kegiatan sastra yang diselenggarakan oleh komunitas di mana ia menjadi anggota, meskipun bukan sebagai anggota aktif.
Kedengarannya memang konyol dan agak berlebihan, Sultan Saladdin baru mengetahui kematiannya setelah 7 tahun kemudian. 7 tahun, bukan 7 bulan, apalagi 7 hari. Lalu ke mana saja ia selama 7 tahun setelah kematiannya yang menyedihkan itu? Ia sendiri tampak bingung. Dahinya berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius. Saat ini ia merasa masih hidup. Dan, saat ini ia berada di sini, di rumahnya sendiri, sebagai hantu.
SULTAN Saladdin baru menyadari kematiannya setelah 7 tahun ia tewas akibat sengatan listrik di ruang tamu rumahnya. Ya, ketika itu usianya 38 tahun, dan apabila ia masih menjalani kehidupan sebagai manusia bernyawa maka kini ia genap 45 tahun.
Sultan Saladdin adalah lelaki baik-baik. Berumur tiga puluh delapan tahun kala itu, menikah dua kali. Pernikahan dengan istri pertama tanpa anak, pernikahan kedua ia beroleh dua orang anak. la bekerja sebagai wartawan di salah satu majalah mingguan ternama di ibu kota, dan ia begitu mencintai buku, terutama buku sastra. Ia bergabung dengan komunitas penikmat sastra dan banyak mengikuti kegiatan-kegiatan sastra yang diselenggarakan oleh komunitas di mana ia menjadi anggota, meskipun bukan sebagai anggota aktif.
Kedengarannya memang konyol dan agak berlebihan, Sultan Saladdin baru mengetahui kematiannya setelah 7 tahun kemudian. 7 tahun, bukan 7 bulan, apalagi 7 hari. Lalu ke mana saja ia selama 7 tahun setelah kematiannya yang menyedihkan itu? Ia sendiri tampak bingung. Dahinya berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius. Saat ini ia merasa masih hidup. Dan, saat ini ia berada di sini, di rumahnya sendiri, sebagai hantu.
15 Maret 2015
Hari Ini Qi Genap Berusia 21 Tahun
Oleh LAILY LANISY
NAMAKU Qi. Nama yang tidak lazim, sehingga wajar bila hanya beberapa orang yang bisa melafalkan namaku dengan benar. Salah sarunya adalah nenekku yang biasa aku panggil Simak. Simak buta huruf, dia tidak tahu bagaimana menulis dan membaca namaku. Yang dia tahu ayahku memanggilku dengan ucapan Chi, dengan bibir agak dikulum dan ditarik ke bawah. Jadi dengan cara persis seperti itu dia memanggilku. Ibu kandungku sendiri, yang aku panggil dengan sebutan Mbak Ning tidak sefasih itu bila memanggilku. Mbak Ning memanggilku Ci, ringan seperti dalam Ciri Tegal. Kebanyakan orang memanggilku Ki.
Nama lengkapku Tan Qi Zi dari bahasaTiongkok yang berarti giok yang anggun dari keluarga Tan. Kok namaku bisa Tiongkok sekali?
NAMAKU Qi. Nama yang tidak lazim, sehingga wajar bila hanya beberapa orang yang bisa melafalkan namaku dengan benar. Salah sarunya adalah nenekku yang biasa aku panggil Simak. Simak buta huruf, dia tidak tahu bagaimana menulis dan membaca namaku. Yang dia tahu ayahku memanggilku dengan ucapan Chi, dengan bibir agak dikulum dan ditarik ke bawah. Jadi dengan cara persis seperti itu dia memanggilku. Ibu kandungku sendiri, yang aku panggil dengan sebutan Mbak Ning tidak sefasih itu bila memanggilku. Mbak Ning memanggilku Ci, ringan seperti dalam Ciri Tegal. Kebanyakan orang memanggilku Ki.
Nama lengkapku Tan Qi Zi dari bahasaTiongkok yang berarti giok yang anggun dari keluarga Tan. Kok namaku bisa Tiongkok sekali?
8 Maret 2015
Perempuan yang Keluar dari Papan Iklan
Oleh HARY B. KORI'UN
DIA keluar dari papan iklan raksasa di simpang jalan itu, tengah malam saat jalanan terlihat lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas. Aku baru pulang dari kantor ketika dia melangkah pelan-pelan, menjejakkan kaki ke aspal, kemudian mengibas-ngibaskan jins biru dan kemeja putihnya. Itu busana yang dipakainya, yang juga menjadikan dia bintang di papan iklan dan iklan televisi sebuah brand busana terkenal, yang sudah hampir seratus tahun lebih jins, kemeja, jaket, ikat pinggang, atau t-shirt-nya digandrungi orang semua usia.
Aku turun dari mobil dan mengikutinya. Aku kenal wajahnya, artis film terkenal yang sering pilih-pilih peran, tak pernah mau bermain di serial televisi, dan hanya mau membintangi satu iklan, yakni brand busana terkenal itu. Semua orang tahu siapa dia karena iklannya hampir setiap waktu ada di televisi dan wajahnya terpampang di papan iklan yang tersebar di hampir seluruh kota di negeri ini. Tapi, aku memang tak pernah bertemu langsung dengannya. Anehnya, aku justru dipertemukan dengannya dalam momen yang sureal dan di luar nalarku ini.
DIA keluar dari papan iklan raksasa di simpang jalan itu, tengah malam saat jalanan terlihat lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang melintas. Aku baru pulang dari kantor ketika dia melangkah pelan-pelan, menjejakkan kaki ke aspal, kemudian mengibas-ngibaskan jins biru dan kemeja putihnya. Itu busana yang dipakainya, yang juga menjadikan dia bintang di papan iklan dan iklan televisi sebuah brand busana terkenal, yang sudah hampir seratus tahun lebih jins, kemeja, jaket, ikat pinggang, atau t-shirt-nya digandrungi orang semua usia.
Langganan:
Postingan (Atom)



















