Oleh MUHIDIN M. DAHLAN
Tragedi perang saudara di Indonesia paling besar pada abad ke-20 bermula dari kuburan. Penggalian jenazah "tujuh pahlawan revolusi" dari kuburan di Lubang Buaya hingga iring-iringan jenazah para jenderal pada 1965 adalah rundown karnaval muram yang menjadi titik-tanda dimulainya operasi pembantaian masal.
Lubang Buaya dan Kalibata adalah dua kuburan. Tapi, yang pertama menjadi simbol puncak dan sekaligus dalih pembuka adegan demi adegan horor politik. Sedangkan Kalibata adalah kuburan kehormatan bagi mereka yang berjasa bagi nusa dan bangsa.
Lubang Buaya dan Kalibata adalah narasi bagaimana pembelahan politik kuburan dilakukan. Simbol itu dipermainkan sedemikian rupa untuk menunjukkan amaliah sebuah kaum apakah bermoral bejat atau terhormat.

